PELABUHAN MALAHAYATI

Sejarah Pelabuhan Malahayati dimulai sejak masa Sultan Iskandar Muda. Saat itu banyak Orang China sering melakukan perdangan dengan Orang Aceh di pelabuhan ini. Mereka berdagang batu akik, mulia, nila, hablur, badak, ayu gaharu, dan batu ambar. Pedagang China membeli kayu kelembak, keris, cengkeh, kayu sapan, belerang, pucuk, busur, timah, dupa di sini. Pelabuhan Malahayati disebut juga Pelabuhan Lamwuli, sesuai dengan nama Kerajaan Aceh saat itu, Kerajaan Lamuri.

Sebelum tahun 1970, pelabuhan yang berada di Krueng Raya Aceh Besar ini digunakan sebagai pelabuhan transit. Namun kemudian  dialih fungsikan menjadi sebuah tempat persinggahan kapal. Usai  tragedi tsunami pada  2004, pelabuhan ini sempat mangkrak, lalu beroperasi kembali tahun 2007.

Kini, di pelabuhan ini kerap diangkut produk ekspor asal Aceh menuju ke kawasan Eropa dan Timur Tengah. Barang seperti minyak dan gas dari PT Pertamina, atau produk seperti semen dan aspal curah dibongkar di sini untuk didistribusikan ke seluruh Aceh.