Dunia Maritim

Dunia Maritim

21 February 2020

Shanghai dan Singapura Tetap Menjadi Pelabuhan Tersibuk di Dunia

Menangani sekitar 43,3 juta TEUs pada 2019, Shanghai telah mampu mempertahankan posisinya sebagai pelabuhan petikemas terbaik di dunia. Pada Agustus 2019, Shanghai juga dinobatkan sebagai pelabuhan terkoneksi terbaik di dunia oleh United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) yang didasarkan pada sebagian besar throughtput, efisiensi petikemas, dan inovasi teknologi.

Pelabuhan-pelabuhan di China saat ini berada pada daftar teratas. Shanghai adalah pelabuhan yang terhubung terbaik di dunia saat ini; telah menyalip Hong Kong, yang pernah menempati peringkat pertama pada tahun 2006. Ningbo menggandakan LSCI (Liner Shipping Connectivity Index) sejak tahun 2006. Selain China, skor LSCI tertinggi tercatat di Singapura.

Menurut Walikota Shanghai Ying Yong “Shanghai akan berfungsi sebagai pelabuhan penting untuk transportasi petikemas internasional dan pusat penerbangan di kawasan Asia Pasifik. Hasilnya Shanghai menjadi pelabuhan petikemas tersibuk di dunia selama 10 tahun berturut-turut.

Di tempat kedua diikuti oleh pelabuhan Singapura. Meskipun lingkungan yang menantang dalam perdagangan global, Pelabuhan Singapura menikmati tahun terbaiknya pada tahun 2019 dengan capaian sebesar 37,2 juta TEUs. Trafik petikemasnya mengalami peningkatan sebesar 1,6 persen dibanding tahun 2018. Hal itu menunjukkan semakin pentingnya Singapura bagi industri pelayaran global. Singapura telah tumbuh pesat sejak 2010 ketika menangani petikemas sebesar 28,4 juta TEUs.

Sebagai pelabuhan tersibuk kedua di dunia, Singapura berencana akan mengambil alih posisi Shanghai jika Pelabuhan Tuas selesai pada tahun 2040.  Dalam pernyataan Otoritas Pelabuhan Maritim Singapura (MPA) mengatakan Pelabuhan Singapura mencatat pertumbuhan yang sangat signifikan dalam dekade terakhir.

“Throughput petikemas pada tahun 2019 merupakan rekor tertinggi sepanjang masa yaitu 37,2 juta TEUs di tengah kondisi ekonomi global yang menantang,” jelasnya.

Singapura juga merupakan pusat pengisian bahan bakar (bunker) terbesar di dunia tetapi mengalami penurunan penjualan bahan bakar pada kinerja tahun 2018 dari 49,8 juta menjadi 47,5 juta ton. Statusnya sebagai pusat bunker utama telah membuatnya menjadi kritis sejak diperkenalkannya IMO 2020, peraturan yang melarang bahan bakar kapak yang mengandung sulfur lebih dari 0,5%.

CEO PSA Internasional

Port of Singapore Authority (PSA) Internasional telah mengekspos kinerja tahun 2019 dan CEO PSA group menyoroti investasi yang dilakukan dan langkah ke depan tahun 2020. CEO PSA Group Tan Chong Meng mengatakan “2019 merupakan tahun dimana PSA Group memperluas cakupan bisnis, dilatarbelakangi adanya perang dagang secara global, iklim perekonomian dan berbagai dampak teknologi terhadap bisnis dan masyarakat’.

Pada tahun 2019, PSA Internasional mampu menangani petikemas sebanyak 85,2 juta TEUs di  seluruh dunia mencakup PSA Singapura dan terminal PSA di luar Singapura.

“Dengan adanya kerjasama beberapa terminal baru seperti DCT Gdansk, PSA Halifax dan Penn Terminal, kami dapat memperluas cakupan konektivitas yang lebih besar untuk menumbuhkan ekonomi baru di Baltik dan Amerika Utara,” imbuhnya.

“Diluar wilayah operasional tersebut, kami juga berupaya mengembangkan lebih banyak pilihan transportasi bagi pemilik dan penggerak kargo melalui PSA Cargo Solutions. Kami juga terus mengembangkan CALISTATM sebagai platform yang memiliki nilai tambah dan dapat dioperasikan oleh para pemangku kepentingan dalam rantai pasokan global dengan Global e Trade Services (GeTS). Ke depan PSA akan terus membangun jaringan pelabuhan global serta pemanfaatan teknologi guna meningkatkan produktifitas dan melayani pelanggan secara optimal,” pungkasnya. (Disarikan dari porttechnology.org oleh Kharis Fauzi)